Batman Begins - Help Select

Pages

Ads 468x60px

Kamis, 17 Oktober 2013

Pemisahan Langit dan Bumi




Gambar ini menampakkan peristiwa Big Bang, yang sekali lagi mengungkapkan bahwa Allah telah menciptakan jagat raya dari ketiadaan. Big Bang adalah teori yang telah dibuktikan secara ilmiah. Meskipun sejumlah ilmuwan berusaha mengemukakan sejumlah teori tandingan guna menentangnya, namun bukti-bukti ilmiah malah menjadikan teori Big Bang diterima secara penuh oleh masyarakat ilmiah.
Satu ayat lagi tentang penciptaan langit adalah sebagaimana berikut:
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (Al Qur'an, 21:30)
Kata "ratq" yang di sini diterjemahkan sebagai "suatu yang padu" digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan "Kami pisahkan antara keduanya" adalah terjemahan kata Arab "fataqa", dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari "ratq". Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini.

Senin, 14 Oktober 2013

PENGARUH DAMPAK EFEK RUMAH KACA TERHADAP LINGKUNGAN


" Efek Rumah Kaca A. Pengenalan efek rumah kaca Efek rumah kaca, pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan sebuah proses di mana atmosfer memanaskan sebuah planet. Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca. Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (lihat juga pemanasan global). Yang belakangan ini diterima oleh semua; yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat. Ketika radiasi

Minggu, 13 Oktober 2013

Sumber dari kehidupan akhirnya ditemukan di luar bumi

Para peneliti memastikan adanya sebuah sistem tata surya mirip dengan yang kita miliki. Sistem yang letaknya sekitar 100 tahun cahaya dari bumi ini juga diyakini mampu menunjang kehidupan. Seperti yang dilansir The Verge (10/10), sayangnya penunjang kehidupan ini hanya berbentuk batu asteroid sehingga tidak dilengkapi dengan atmosfer. Namun, material asteroid yang sebagian besar air inilah yang diyakini mampu menghadirkan kehidupan. Penemuan air dalam asteroid yang ada di luar tata surya kita sendiri adalah hal pertama yang pernah ditemukan manusia. Dengan begitu, potensi adanya bumi kedua di luar sana kemungkinan masih ada. Penemuan ini sendiri pertama kali dilakukan oleh para peneliti dari University of Cambridge yang kemudian disebarkan lewat Science. Para peneliti yakin asteroid ini telah melewati tempat di mana air bisa menghadirkan kehidupan. "Asteroid itu seperti lego, jika mereka dikumpulkan akan jadi planet," kata Jay Farihi, pemimpin penelitian. Sayangnya, untuk membuat planet yang bisa dihidupi sendiri dibutuhkan kumpulan jutaan asteroid dengan berbagai kandungan berbeda. Hal ini tentunya butuh waktu yang lama. Para peneliti pun kemudian menemukan sebuah metode baru untuk mencari planet yang bisa dihuni. Caranya adalah dengan mencari bintang muda yang diputari oleh asteroid macam ini.

28 Juta tahun lalu, ada meteor yang sapu bersih permukaan bumi

Sebuah penelitian berhasil mengungkap bahwa ada kemungkinan yang telah menyapu bersih wilayah bumi pada 28 juta tahun lalu adalah sebuah komet. Sebuah bukti yang terdapat pada bros yang dimiliki oleh raja Tutankhamen dari Mesir mengungkapkan bahwa sekitar 28 juta tahun lalu, tepatnya di gurun Sahara, sebuah meteor jatuh menabrak bumi. Seperti dikutip dari National Geographic (11/10), ledakan meteor setelah menumbuk bumi tersebut melahirkan kekuatan yang maha dahsyat dengan panas sebesar 2000 derajat Celcius dan menyapu lebih dari 2,300 mil persegi di Sahara. Seketika setelah panas tersebut menyapu daerah itu, pasir dan segala hal di sekitarnya meleleh menjadi sebuah hamparan yang mirip permukaan gelas silika berwarna kuning. Bertahun-tahun setelahnya, seseorang yang akhirnya menjadi raja di Mesir itu berhasil menggunakan pecahan yang diperkirakan adalah sisa kerikil meteor tersebut serta menggunakan bubuk dari kaca silika itu dalam bros yang dimilikinya. Penemuan serta bukti tersebut sangatlah penting karena dapat dijadikan rujukan untuk menyingkap formasi dan awal mula kehidupan di bumi. Sayangnya, walaupun mengklaim bahwa bros tersebut merupakan bukti bahwa 28 juta tahun tersebut ada meteor yang berhasil menyapu sebagian besar permukaan bumi, namun para peneliti masih kesulitan menemukan letak tumbukan meteor dengan tanah tersebut terjadi. "Tidak ada tanda dan kita masih belum menemukan letak pasti di mana meteor tersebut meledak," jelas Davin Block, seorang astronom dari Wits University di Johannesburg, Afrika Selatan.
 

Sample Text